Jagalah Lisan

Lisan adalah salah satu nikmat pemberian dari Allah Ta’ala yang besar bagi manusia. Dengan lisan, manusia bisa berbicara dan bercakap-cakap dengan orang lain, tanpa lisan manusia sulit untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Namun ingatlah, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban apa yang telah diucapkan lisan, dan semua ucapan akan tertulis.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir”. Surat Qaf: 18

Imam Ibnu Katsir berkata: Tidaklah anak Adam berkata suatu perkataan kecuali ada pengawasnya yang akan mencatat seluruh ucapan dan gerakan. (Tafsir Ibnu Katsir juz 7 hlm. 398) .
Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Artinya: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Surat Al-Isra’: 36
Imam Qatadah rahimahullah Berkata: Jangan kamu mengatakan telah melihat padahal kamu tidak melihat, dan jangan katakan kamu telah mendengar padahal kamu tidak mendengar, dan jangan kamu katakan telah mengetahui padahal kamu tidak mengetahui. (Tafsir Abdurrazzaq Al-Shan’ani juz 2 hlm. 299 dan Tafsir At-Thabari juz 14 hlm. 594 ).

Imam ‘Ikrimah rahimahullah mengatakan: pendengarannya, pengelihatannya dan hatinya akan bersaksi atasnya. (Fathu Al-Qadir juz 4 hlm 313).

Dan di dalam hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ قُلْتُ : بَلَى ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ ، فَقَالَ : تَكُفُّ عَلَيْكَ هَذَا قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ ؟ قَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ هَلْ يُكِبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ ، إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ؟رواه الترمذي وصححه الألباني

Artinya: “Apakah kamu ingin aku kabarkan dengan kunci semua itu? aku menjawab: iya, maka beliau memegang lisannya dan berkata: jagalah ini, aku berkata: adakah kita dihukum atas ucapan yg kami ucapkan? beliau bersabda: Tidaklah yg menyeretkan manusia diatas muka mereka di dalam neraka melainkan hasil-hasil mulut lisan mereka”. Hadis riwayat Al-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani.

Perawi Hadits

Sahabat Mu’adz bin Jabal nama panjangnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, sedangkan nama julukannya adalah “Abu Abdurahman”. Ia dilahirkan di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun. Ia adalah sahabat nabi yang berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak pertama kali, Sehingga ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun). Fisiknya gagah, berkulit putih, berbadan tinggi, berambut pendek dan ikal, dan bergigi putih mengkilat. Muadz termasuk dalam rombongan berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Mu’adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, dan bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram. Mu’adz juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang dikirim ke Yaman sebagai muballigh. Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah Tha’un di Urdun tempat ia mengajar sebagai utusan khalifah Umar bin Khattab, waktu itu usianya 33 tahun.

Makna Global

Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan bodoh, kemudian Allah Ta’ala membekali manusia dengan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk berfikir, agar bisa mengambil pelajaran, menerima dan menjalankan syareat Allah Ta’ala.

Lisan yang merupakan nikmat yang bersar dari Allah Ta’ala, jangan sampai digunakan untuk bermaksiat, seperti; berbohong, menggunjing, mencela, menyakiti orang lain, dll. Tapi jagalah lisan agar mengucapkan kata-kata yang baik atau kalau tidak bisa, maka hendaknya diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْم الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendak ya berkata yang baik atau diam“. Muttafaq ‘alaihi.

Sebab seseorang yang tidak bisa menjaga lisannya, akan menyebabkan kesengsaraan bagi dia tanpa dia sadari, karena dimasukkan ke dalam neraka, na’udzubillah.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata : Termasuk hal yang mengherankan adalah ada orang yg mudah baginya untuk menjaga diri dan menahan diri dari makan sesuatu yang haram, kezhaliman, zina, mencuri, minum khamr, melihat yang haram dan selainnya, namun sulit baginya untuk mengendalikan gerakan lisannya. Sampai-sampai engkau melihat seorang yang dianggap baik agamanya, zuhud dan banyak ibadah, namun dia bertutur dengan ucapan yang dimurkai Allah tanpa mempedulikan akibatnya. Dengan satu kalimat sahaja, dia tergelincir ke dalam jurang yang dalamnya lebih jauh dari jarak antara timur dan barat. Betapa banyak engkau melihat orang yang sangat berhati-hati dari perbuatan keji dan zhalim, namun lisannya suka mencemari kehormatan orang-orang yang masih hidup maupun yang telah mati tanpa mempedulikan apa yang dia ucapkan.

(Al-Jawaabul Kaafy, hal. 366).

Faedah-faedah Yang Dapat Diambil

  1. Pentingnya bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang sangat banyak, di antara adalah nikmat lisan bisa berbicara.
  2. Wajibnya menjaga lisan dari mengucapkan kata-kata yang buruk, yaitu dengan memikirkan dampak buruk dari ucapan yang tidak baik, sehingga tidak mengucapkan sesuatu kecuali dipastikan bahwa ucapan itu baik, jika tidak bisa berkata yang baik maka hendaknya diam.
  3. Seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dengan menjaga lisan.
  4. Menulis hukumnya seperti ucapan, jadi seseorang tidak boleh sembarangan ketika menulis buku, atau tulisan dalam bentuk apapun, namun hendaknya menulis didasarkan atas ilmu yang jelas, karena semua hal itu akan ada pertanggungjawabannya.
  5. Lisan hendaknya digunakan untuk membaca Al-Quran, berdzikir, bersholawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dll.
  6. Gunakanlah lisan dan tulisan juga untuk mendakwahkan kebenaran, mengajak berbuat baik, melarang yang mungkar, karena semua itu akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.

***

Ditulis oleh:
Ustadz Agus Santoso, S.Pd.I, Lc. M.P.I

(Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *