Pahala Yang Terus Mengalir

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Biografi Perawi Hadits

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bernama asli Abdurrrahman bin Shakhr Al-Dausy menurut pendapat yang kuat, beliau berasal dari kabilah Al-Dausy salah satu kabilah yang berasal dari Yaman. Beliau masuk Islam pada tahun ke 7 Hijriyah. Beliau berkuniah dengan Abu Hurairah karena beliau selalu membawa kucing (al hirr) di balik bajunya.

Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis (al-muktsirin bil hadis). Hal ini dkarenakan dua sebab:

Pertama, berkat doa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuknya agar diberikan ilmu yg tidak dilupakan.

Kedua, Beliau bermulazamah (senantiasa bersama) belajar kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara sempurna, karena beliau salah satu dari kalangan ahli shuffah yang tidak memiliki keluarga yang tinggal di serambi masjid Nabawi. Beliau termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah, seorang hafizh yg memiliki hafalan sangat kuat, seorang yg zuhud dan wara’. Beliau meninggal pada tahun 59 H tatkala berumur 78 tahun.

Makna Global

Hadis ini berisi penjelasan bahwa kematian seseorang menyebabkan amalnya terputus, karena dia telah berpindah dari tempat beramal (kehidupan dunia) kepada tempat pembalasan (negeri akherat), kecuali ada amal-amal yang terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia:

Pertama, sedekah jariyah, yaitu bersedekah untuk keperluan yang dimanfaatkan oleh orang lain, misalnya, berinfak membangun masjid atau madrasah, selama masjid atau madrasah itu digunakan untuk shalat dan belajar, maka pahala dia akan mengalir terus menerus.

Kedua, ilmu yang dimanfaatkan, seperti mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada seseorang atau mengajarkan ilmu agama, orang yang mengajarkannya akan senantiasa mengalir pahalanya untuknya selama ilmunya digunakan orang lain.

Ketiga, anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya, yaitu anak sholeh yang berbakti kepada kedua orang tua, yang mendoakan kebaikan untuk keduanya, dan memintakan ampun kepada Allah Ta’ala untuk kedua orang tuannya, seperti mendoakan:

Allahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayanii shoghiiro

(Ya Allah ampunilan dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan rahmatillah keduanya, sebagaimana mereka dahulu telah memelihara aku semenjak kecil).

Tiga hal inilah yang pahalanya terus menerus mengalir dan bermanfaat bagi mayit. Maka dari itu berusahalah untuk beramal shalih, terutama amal amal sholih yang pahalanya mengalir semasa hidup maupun setelah meninggal dunia.

Faedah-faedah Hadits

  1. Motivasi untuk segera beramal sholih, selama nyawa masih di badan sebelum kematian menjemput, supaya tidak menjadi orang yang merugi.
  2. Keutamaan sedekah atau infaq pembangunan masjid, madrasah, pesantren, panti asuhan, atau pengadaan sarana-sarana ibadah, seperti: pengadaan mushab Al-Qur’an, mukena atau sarung di masjid, dll. Karena pahala orang yg berinfaq akan terus mengalir selama bangunan bangunan itu digunakan.
  3. Keutamaan belajar dan mengajarkan ilmu, seperti mengajarkan baca Al-Quran, tata cara wudhu, shalat, dll. Baik secara langsung maupun lewat media cetak dan elektronic serta media sosial, karena pahalanya akan mengalir untuk pengajarnya selama ilmunya diamalkan orang lain.
  4. Orang tua hendaknya berusaha untuk mendidik anak-anak dengan pendidikan yang Islami, yaitu dengan mengajari mereka aqidah yang lurus, membiasakan mereka untuk beribadah. Demikian pula menyekolahkan di sekolah-sekolah yang bagus agamanya dan menjaga pergaulan mereka. Dengan tujuan agar mereka menjadi anak anak yang sholeh dan sholehah, sehingga nanti mereka bisa memintakan ampun untuk kedua orang tuanya kepada Allah Ta’ala.
  5. Orang tua hendaknya memberikan contoh dan suri tauladan yang baik kepada anak anaknya, karena biasanya anak akan meniru perilaku orang tuanya. Maka orang tua harus berusaha baik, dan menjaga sikap dan ucapannya. Sehingga akan ditiru oleh anak-anaknya.

Wallahu a’lam

***

Ditulis oleh:
Ustadz Agus Santoso, S.Pd.I, Lc. M.P.I

(Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *