Pentingnya Kesempatan

Hidup di dunia sangatlah pendek, waktu begitu cepat berjalan yang tidak mau berhenti.

Hidup di dunia adalah tempat ujian bagi seseorang, apakah dia berhasil melewati ataukah gagal.

Allah Ta’ala telah menjelaskan perkara-perkara yang baik dan perkara yang buruk, serta memberikan kepada manusia pilihan, jalan yang baikkah yang ditempuh atau jalan yang buruk.

Hidup di dunia jangan membuat terlena, namun hendaknya mawas diri, dan menggunakan kesempatan yang ada untuk beramal shalih. Setiap orang diberikan kesempatan untuk menjadi baik, tergantung dia sendiri mau mengambil kesempatan baik itu ataukah tidak.

Manusia diberikan umur, agar digunakan untuk beramal,

Manusia diberikan nikmat sehat, untuk menjalankan ibadah,

Manusia diberikan harta, agar digunakan untuk zakat, infaq dan membantu sesama,

Manusia diberikan kedudukan, agar bisa menolong orang miskin dan lemah,

Manusia diberikan ilmu, agar bisa didakwahkan kepada orang lain,

Manusia diberikan waktu luang,  agar digunakan untuk hal yang bermanfaat,

Jika seseorang diberikan kenikmatan itu, namun tidak digunakan dengan sebaik-baiknya,  maka dia akan sangat rugi, rugi di dunia sebelum rugi di akherat.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Seseorang diberikan waktu muda hanya sekali, lambat laun akan bertambah umur, sehingga menjadi tua jika diberikan umur panjang.

Seseorang diberikan nikmat sehat, adalah kesempatan emas untuk beramal, mumpung sehat, maka berusahalah beramal sebelum datang masa sakit.

Seseorang diberikan kekayaan harta,  ini adalah kesempatan besar untuk menginfaqkan sebagian harta pada masa sekarang,  belum tentu masa yang akan datang dia akan tetap kaya, berapa banyak orang yang dahulu kaya, sekarang menjadi miskin papa.

Nikmat waktu luang juga merupakan kesempatan emas bagi seseorang; waktu luang untuk beribadah, waktu luang untuk belajar ilmu agama, maka gunakanlah waktu luang ini dengan sebaik mungkin, sebelum datang waktu kesibukan.

Umur, merupakan nikmat pemberian Allah Ta’ala yang mahal, gunakanlah umur ini untuk mengumpulkan bekal menuju perjalanan jauh,  yaitu perjalanan akherat. Gunakan umur ini untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjahui larangan Allah Ta’ala dan RasulNya, agar bisa menggapai ketaqwaan, karena taqwa merupakan bekal yang terbaik untuk menyongsong negeri akherat.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewanti-wati dengan sabdanya,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Apalagi berada di waktu bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan, bulan datangnya rahmat Allah Ta’ala dan ampunanNya, serta pahala amal shalih dilipatgandakan.

Tunggu apalagi,
Kenapa masih terjerembab dalam lubang kemaksiatan-kemaksiatan?

Kenapa masih belum mau bertaubat dan memperbaiki diri?

Kenapa masih malas beribadah kepada Allah Ta’ala?

Apakah menunggu kematian datang? Padahal ketika datang kematian seseorang tidak akan bisa beramal shalih lagi, sehingga akan menyesal selamanya.

Allah Ta’ala berfirman mengenai mereka,

(حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100).

Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup ini, apakah kita tidak meresakan?

Ada di antara teman, tetangga, kerabat, yang pada bulan Ramadhan tahun lalu masih hidup bersama kita, namun sekarang dia telah tiada?

Marilah Segera bertaubat,  segera memperbaiki diri dengan belajar dan mengamalkan syariat Allah Ta’ala…

Dan bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala agar kita semua mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Aammiin.

*******

Penulis:
Ustadz Agus Santoso, Lc. M.P.I
(Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *