Manusia Berlutut Pada Hari Kiamat

Allah Ta’ala berfirman:

{وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (28) هَذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُون}َ (29) 

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” Q.S. Al-Jatsiyah: 28-29.

TAFSIR AYAT

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, Allah Ta’ala befirman:

{وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً}

Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut.  (Al-Jatsiyah: 28).

Mereka terduduk di atas lututnya karena sangat takut dan ngeri. Menurut suatu pendapat, sesungguhnya hal ini terjadi manakala neraka Jahanam didatangkan, lalu Jahanam mengeluarkan suara gelegarnya yang hebat, maka tiada seorang pun melainkan terduduk berlutut, sehingga Nabi Ibrahim kekasih Allah Ta’ala sendiri mengatakan, “Ya Allah, selamatkanlah diriku, selamatkanlah diriku, selamatkanlah diriku; aku tidak meminta kepada Engkau pada hari ini kecuali keselamatan diriku.” 
Sehingga Isa putra Maryam alaihissalam sendiri mengatakan, “Aku tidak meminta kepada Engkau hari ini kecuali selamatkanlah diriku. Dan aku tidak meminta kepada Engkau selamatkanlah Maryam yang telah melahirkan diriku.”
Mujahid dan Ka’bul Ahbar serta Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tiap-tiap umat berlutut. (Al-Jatsiyah: 28) Yakni terduduk di atas lututnya.

Firman Allah Ta’ala:

{كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا}

“Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya”. (Al-Jatsiyah: 28)

Yang dimaksud dengan kitab ialah buku catatan amal perbuatan, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ}

“dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi”. (Az-Zumar: 69).

Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini pada firman berikutnya:

{الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

“Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (Al-Jatsiyah: 28).

Yakni kalian akan mendapat balasan amal perbuatan kalian, yang baiknya dan yang buruknya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{يُنَبَّأُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ. بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ. وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ}

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (Al-Qiyamah: 13-15

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

{هَذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ}

“(Allah berfirman), “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar.” (Al-Jatsiyah: 29)

Yaitu mencatat semua amal perbuatan kalian tanpa ditambahi dan tanpa dikurangi. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا}

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa “yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai, celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al-Kahfi: 49).

Firman Allah Ta’ala :

{إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

“Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”. (Al-Jatsiyah: 29).

Yakni sesungguhnya kami telah memerintahkan kepada para malaikat pencatat amal perbuatan untuk mencatat semua amal perbuatan kalian.

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan, bahwa para malaikat mencatat amal perbuatan hamba-hamba Allah, kemudian para malaikat itu membawa naik ke langit catatan-catatan tersebut. Maka mereka bertemu dengan para malaikat lainnya yang berada di Diwanul A’mal, lalu mereka mencocokkan dengan apa yang telah di tampakkan bagi para malaikat Diwanul A’mal dari Lauhul Mahfuz di setiap malam Lailatul Qadar, yang mana hal tersebut termasuk di antara yang telah di tetapkan oleh Allah Ta’ala di zaman azali terhadap hamba-hamba-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Maka tidak ada penambahan dan pengurangan padanya barang satu huruf pun. Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu anhu membaca firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Jatsiyah: 29). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir hlm. 130).

FAEDAH-FAEDAH AYAT 

1. Dahsyatnya keadaan hari kiamat, seluruh manusia tunduk dan hina di hadapan Allah Ta’ala, dalam keadaan berlutut menunggu pembalasan atas amal-amal mereka.

2. Ketakutan yang sangat atas manusia ketika hari kiamat itu, hari perhitungan amal,  bahkan para nabi saja merasa takut akan murka Allah Ta’ala,  padahal mereka adalah manusia-manusia terbaik, apalagi manusia biasa, sangat takut dengan siksa Allah Ta’ala.

3. Kitab amal yang ditulis oleh para malaikat pencatat amal akan menjadi saksi atas perbuatan manusia sewaktu di dunia,  sehingga pengadilan Allah Ta’ala akan memutuskan sesuai amal manusia, jika seseorang amalnya baik, maka akan dibalas dengan kebaikan, sebaliknya jika amalnya jelek maka balasannya juga berupa keburukan.

4. Jika teringat dahsyatnya hari pembalasan, seharusnya menjadikan manusia takut kepada Allah Ta’ala, sehingga berusaha untuk beramal shalih dan menjahui kemaksiatan, agar seseorang selamat pada hari yang dahsyat itu.

5. Kewajiban setiap manusia untuk muhasabah (evaluasi ) diri, untuk perbaikan amal di masa yang akan datang, agar tidak merugi di akherat. Maka belajarlah dan terimalah kebenaran serta amalkanlah dan berusaha didakwahkan sebagai bekal hari esok.

6. Marilah segera bertaubat dan beramal shalih Sebelum datang hari perhitungan amal, jangan menunggu waktu ajal menjemput, karena waktu ajal menjemput seseorang tidak akan bisa lagi untuk beramal shalih. Wallaahu a’lam.

******

Ditulis oleh:
Ustadz Agus Santoso, B.A., M.P.I
(Dewan Pembina bimbingansyariah.com).

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *