Hukum Shalat Ied

:السؤال

ما حكم صلاة العيد هـل هي فرض كفاية، أو فرض عين، وإذا فاتت فهل تقضى؟

:الإجابة

صلاة العيد فيها أقوال ثلاثة للعلماء: فمنهم مَن قال: إنها سنة؛ لأن الأعرابي الذي سأل النبي صلى الله عليه وآله وسلم، لما أخبره عن الصلوات الخمس قال: هل علي غيرها؟ قال: “لا، إلا أن تطوع”. ومنهم مَن قال: إنها فرض كفاية، وقال: إنها من شعائر الإسلام الظاهرة، ولهذا تفعل جماعة وتفعل في الصحراء، وما كان من الشعائر الظاهرة فهو فرض كفاية كالأذان. ومنهم مَن قال: إنها فرض عين، لأن النبي صلى الله عليه وآله وسلم، أمر بها حتى النساء الحيض، وذوات الخدور، والعواتق أمرهنَّ أن يخرجنَّ إلى مصلى العيد، وهذا القول أقرب الأقوال، وهو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله أنها “فرض عين”.
وإذا فاتت لا تقضى، يعني لو جئت والإمام قد سلم فلا تقضيها، لأنها مثل الجمعة لا تقضى إذا فاتت، لكن الجمعة عنها بدل وهو الظهر، لأن الوقت هذا لابد فيه من صلاة، وأما العيد فلم يرد عن النبي عليه الصلاة والسلام أن لها بدلاً.

مجموع فتاوى و رسائل الشيخ محمد صالح العثيمين – المجلد السادس عشر – كتاب صلاة العيدين-

Pertanyaan:
Apakah hukum shalat Ied, fardhu kifayah atau fardhu ‘ain? Dan apabila terluput apakah diqadha’?

Jawaban:

Hukum shalat Ied ada tiga pendapat dari kalangan ulama:
🌿 Di antara mereka ada yang berpendapat hukumnya sunnah, karena seorang arab badui yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, ketika beliau mengabarkan kewajiban shalat lima waktu, ia bertanya: Apakah ada kewajiban atas saya selain dari itu? Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak ada, kecuali hanya sunnah saja.
🌿 Di antara mereka ada yang berpendapat hukumnya fardhu kifayah, mereka berkata, bahwa shalat Ied itu merupakan bagian dari syiar-syiar Islam yang tampak, oleh karena itu shalat Ied ini dilakukan secara berjamaah di tanah lapang, maka sesuatu hal yang merupakan syiar dhahir maka hukumnya fardhu kifayah seperti adzan.
🌿 Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa shalat Ied hukumnya fardhu ‘ain, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkannya, sampai para wanita yang haid, gadis-gadis perawan dan wanita baru baligh, beliau perintahkan mereka untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) shalat Ied, dan pendapat ketiga ini yang lebih dekat (benar), dan ini adalah pendapat pilihan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah yaitu hukumnya adalah fardhu ‘ain.

Jika terluput shalat Ied maka tidak ada qadha, yakni jika anda datang ke lapangan sedangkan imam sudah salam maka anda tidak wajib mengqadha, karena shalat Ied ini seperti shalat Jumu’ah yang tidak diqadha jika tertinggal, akan tetapi shalat Jumu’ah ada penggantinya jika terlewatkan yaitu shalat Dhuhur, karena waktu itu harus dilaksanakan shalat (Dhuhur), adapun shalat Ied, maka tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa shalat ini ada penggantinya.

📚 Majmù’ Fatàwà wa Rasàìl Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Jilid 16 di Kitab Shalat.

Keterangan:

  • Fardhu ‘ain : Wajib bagi setiap individu
  • Fardhu Kifayah : Kewajiban, apabila Telah dilakukan sebagian kaum muslimin, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya
  • Sunnah : Suatu perintah yang tidak wajib dikerjakan.
    Wallaahu a’lam

*****
✍ Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I
(Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *