Hukum Memajang Gambar Atau Foto Bernyawa

Hadits Pertama

Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dia berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.” (H.R. At-Tirmizi no. 1671).

Hadits kedua

Dari Thalhah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لا تَدْخُلُ الْمَلائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كلب ولا صورة

Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” (H.R. Al-Bukhari 10/328, Muslim no. 2606).

 

Makna Global

Hadits di atas menjelaskan tentang larangan menempel atau memajang gambar atau foto bernyawa di dalam rumah, salah satu hikmah pelarangan ini adalah bahwa malaikat rahmah tidak bisa masuk ke dalam rumah yang ada gambar bernyawanya.

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan macam-macam gambar:

1. Gambar berdimensi / patung makhluk hidup, seperti manusia, singa, kelinci, kera, dll. Maka hukumnya haram dengan kesepakatan ulama.

2. Gambar dua dimensi, dibagi menjadi 2:

  •  Gambar dua dimensi makhluk tidak bernyawa, seperti gunung, laut, pohon, dll. Maka hukumnya boleh. Namun menurut imam Mujahid tidak boleh gambar benda yang hidup berkembang meskipun tidak bernyawa, misalnya pohon, namun menurut jumhur ulama hal itu dibolehkan dan ini pendapat yang benar, karena pohon itu tidak bernyawa.
  • Gambar dua dimensi makhluk bernyawa, maka hal ini diperselisihkan ulama. Sebagian ulama membolehkannya, karena itu tidak berjasad. Namun jumhur ulama mengharamkan jenis ini dan ini pendapat yang shahih, karena selama gambar ini adalah gambar makhluk hidup bernyawa, maka tetap masuk dalam larangan di dalam hadits.

Jadi kesimpulannya, gambar yang tidak diperbolehkan dipajang di rumah adalah gambar berdimensi (patung) dan gambar/foto makhluk hidup bernyawa.

 

Apakah foto itu termasuk menggambar yang terlarang?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum foto ini, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan.

Pendapat yang membolehkan lebih kuat, sebagaimana dirajihkan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah.

Apabila kita perhatikan dengan seksama, bahwa memotret itu faktanya bukanlah termasuk menggambar, karena fotografer itu hanya menahan gambar (pemandangan) yang ada, yaitu dengan alat kamera. Sangat beda sekali dengan pelukis yang membutuhkan waktu lama untuk melukis objeknya, dengan menggunakan tangan dan matanya dengan cermat, berbeda dengan fotografer, dia tidak butuh waktu lama, sekali jepret saja sudah jadi gambarnya.

Asy-Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menganalogikan, jika ada seseorang menulis surat, kemudian membawanya untuk dicopy ke tempat foto copy, setelah itu keluar dari alat foto kopy kertas yang sama dengan tulisannya. Apakah mesin foto copy ini yang menulisnya? Tidak, mesin ini hanya menahan gambar tulisan itu dengan cahayanya, dan tidak ada seorangpun yang mengatakan surat itu yang menulis mesin foto copy.

Maka siapa yang memperhatikan dengan seksama nash dan hikmah pelarangan menggambar adalah menyamai ciptaan Allah Ta’ala dengan membuat gambar makhluk hidup dengan goresan tangannya, maka inilah yang mendapatkan laknat dan terlarang. Adapun memotret itu hanyalah menahan gambar saja.

Maka hukum asal foto adalah boleh, namun dilihat selanjutnya tujuan dari foto tersebut, apabila tujuan foto itu perkara mubah, maka hukumnya boleh, namun jika tujuannya haram, maka hukumnya menjadi haram. (Dinukil secara ringkas dari Syarh Riyadhush Shalihin Asy-Syaikh Ibn Utsaimin juz 4 hlm. 208-209).

 

Faedah-faedah Hadits

1. Haram hukumnya menggambar makhluk hidup bernyawa.

2. Haram memajang gambar atau foto makhluk hidup bernyawa, seperti foto manusia atau hewan.

3. Haram membuat dan memajang patung bernyawa.

4. Gambar/patung bernyawa dan anjing akan menghalangi masuknya malaikat rahmat ke dalam rumah.

5. Boleh memajang gambar atau foto yang tidak bernyawa di rumah. Seperti, gunung, laut, pohon, dll.

6. Hukum asal foto adalah boleh. Namun hukumnya bisa berubah menjadi haram atau mubah sesuai dengan tujuan foto itu.

7. Haram memajang foto yang membuka aurat di rumah, di tempat lain, dan tidak boleh pula dipajang di medsos.

8. Budaya selfi dan upload, hendaknya dihindari, apalagi wanita yang bisa membuat fitnah ketika wajah atau tubuhnya dipamerkan di medsos.

9. Hati-hati orang-orang yang berprofesi sebagai pelukis atau fotografer, jangan sampai menggambar gambar yang haram. Jangan menggambar makhluk bernyawa, jangan memotret orang yang terbuka auratnya, sungguh ini perbuatan haram dan dosa. Jika hal-hal yang haram ini tidak bisa dihindari, maka wajib meninggalkan profesi ini. Wallaahu a’lam.

 

*******

✍ Ustadz Agus Santoso, Lc. M.P.I
( Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *