Syurga Numpang Neraka Ikut

 

Ada pepatah jawa “Suwargo nunut, neroko katut”. (Ke syurga numpang, ke neraka ikut).

Pepatah ini ditujukan kepada istri yang selalu mengikuti suaminya, taat dengan suaminya, semua perintah suami diikuti, dengan kata lain “pasrah bongkoan” (menyerahkan semuanya untuk suami).

Apakah benar istilah di atas❓

Di dalam hubungan muamalah pasutri, memang suami itu sebagai pemimpin dan kepala rumah tangga, oleh karena itu suami adalah penanggung jawab keluarga.

Meskipun tinggi kedudukan suami, Agama Islam tidak menjadikan suami sebagai “raja diraja” yang wajib ditaati disemua perintahnya. Karena kalau seseorang wajib ditaati semua perintahnya, maka ini seperti menjadikan dia sesembahan selain Allah Ta’ala.

Memang istri memiliki kewajiban taat dengan suami, namun ketaatan dengan suami diikat dengan ketaatan yang ma’ruf (dalam kebaikan). Karena tidak wajib mentaati seseorang dalam perkara maksiyat.

🔘Maka salah jika istri “pasrah bongkoan” kepada suami. Istri adalah manusia mukallafah (yang dibebani syariat), sehingga istri dituntut untuk beribadah kepada Allah, beramal shalih dan menjahui maksiyat, yang pada akhirnya istri akan mendapatkan balasan dari amalnya di akherat nanti.

Adapun pepatah jawa “Suwargo nunut, neroko katut”. (Ke syurga numpang, ke neraka ikut), maka ini juga tidak benar, karena masing-masing orang akan bertanggungjawab dengan amalnya sendiri.

📖 Allah Ta’ala berfirman,

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ 

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,”

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ 

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”

وَأَنَّ سَعْيَهُۥ سَوْفَ يُرَىٰ 

“dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).”

ثُمَّ يُجْزَىٰهُ ٱلْجَزَآءَ ٱلْأَوْفَىٰ 

“Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,”
(Q.S. An-Najm, 53:38-41).

Sehingga istri tidak boleh selalu ikut dengan suami, selalu menuruti apa kata suami, namun hendaknya istri menimbang apakah perintah suami itu perkara yang benar atau salah?

Kalau perkara yang benar, maka wajib ditaati, namun kalau perkara yang salah, maka tidak wajib ditaati.

Misalnya,

Kalau suami memerintahkan istri untuk berpuasa ramadhan? jawabnya: wajib taat

Kalau ada suami yang melarang istrinya sholat, apakah wajib ditaati? Jawabnya: tidak.

Kalau suami melarang istri memakai jilbab besar (baca:syar’i), apakah wajib ditaati? Jawabnya: tidak.

Oleh karena itu, hendaknya para muslimah mencari suami yang bagus agama dan akhlaknya, serta yang berilmu syar’i, karena dengan itu suami bisa membimbing istri dan mendukung istri untuk taat kepada Allah Ta’ala, serta tidak memerintahkan istri perkara yang maksiyat.

☘ Jadi, ilmu syar’i juga wajib dimiliki oleh wanita muslimah, untuk menjaga dirinya dari perbuatan maksiyat.
Wallaahu a’lam.

〰〰〰〰〰
Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I hafizhahullah
( Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *