Dunia Terbalik, Ahli Bid’ah Jadi Panutan

Sungguh di jaman akhir ini, sedikitnya ilmu, tersebarnya kebodohan di masyarakat.

Yang baik dikatakan buruk, yang buruk dikatakan baik. Yang sunnah dikatakan bid’ah, sedangkan yang bid’ah dikatakan sunnah.

Orang sudah tidak peduli lagi, dari mana mereka mengambil ilmu, asal asalan…

Sudah jelas itu perkara bid’ah, masih diplintir-plintir biar jadi sunnah, Dan terkadang tidak segan-segan penyeru bid’ah itu berdusta atas nama ulama Sunnah, copot sini cocok sana, potong video sini potong sana untuk melegalkan bid’ah .

Apalagi potongan video Ustadz sunnah untuk menghantam Manhaj salaf. Yang penting bisa “menghabisi” Ustadz sunnah.

Subhanalloh… apakah tidak takut murka Allah Ta’ala?

Sungguh sedih sekali ketika melihat atau mendengar orang-orang menyanjung para da’i penyeru bid’ah, mengelu-elukan bagaikan sang pahlawan.

Di sisi lain, orang-orang meremehkan dan menghina asatidz sunnah.

Rasulullah telah menjelaskan bahwa di akhir jaman, manusia mencari ilmu dari ahli bid’ah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)” . (Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203).

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?”

Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah).[Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246]

Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah –seorang ulama Saudi, anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia- berkata :

“Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat; dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”;* dia menyimpang dari nash (wahyu), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan ahlusy syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan ahli bid’ah dengan ash shaghir (anak-anak kecil).[Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid] .(almanhaj.or.id).

🌿 Maka saudaraku kaum muslimin dan muslimah, hati-hatilah dengan para penyeru syirik dan bid’ah, jauhilah mereka… ambillah ilmu agama dari para asatidz sunnah, agar tidak tersesat. Wallaahu a’lam

 

***************

✍ Oleh: Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I
( Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *