Kapan Mengucapkan Insyaallah

Ketika seseorang mau melakukan sesuai, hendaknya ia ucapkan insyaallah (jika Allah menghendaki), sebab tidak tahu apakah nanti bisa melakukan hal itu atau tidak. Aqidah setiap muslim bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini adalah merupakan kehendak Allah Ta’ala.

Jadi kata insyaallah itu sebagai pengakuan seseorang untuk menyandarkan urusan kepada Allah Ta’ala. Dan merupakan permintaan pertolongan kepada Allah Ta’ala untuk memudahkan urusan itu, sehingga Allah Ta’ala ridho kepadanya.

Jika tidak mengucapkan insyaallah, bisa jadi Allah Ta’ala akan membiarkan urusannya dan tidak meridhainya.

Perhatikan kisah nabi Sulaiman yang tidak mengucapkan insyaallah sehingga tidak tercapai keinginan beliau,

Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: Ucapkan Insya Allah. Tapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya, hasil selanjutnya tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi. (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat al-Bukhari).

Allah Ta’ala juga menegur Nabi Muhammad agar mengucapkan insyaallah atas perkara yang belum terjadi,

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) Insyaallah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah” (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).

Ingat, bahwa meskipun ada kesempatan besar atau hampir bisa dipastikan akan terjadi menurut akal seseorang, belum tentu hal itu akan terjadi. Bisa jadi Allah Ta’ala tidak menginginkannya, sehingga tidak terjadi.

Boleh seseorang ketika mau melakukan sesuatu untuk meyakinkan diri, namun jangan lupa tetap ucapkan insyaallah, untuk mengembalikan urusannya kepada Allah Ta’ala.

Sering kita mengalami hal itu, misalnya kita berencana pergi ke suatu tempat besok pagi, ternyata terkadang ada halangannya atau hati jadi malas, sehingga tidak jadi pergi. Maka tidak lain, Itu semua adalah kehendak Allah Ta’ala dan KekuasaanNya.

Dan mengucapkan insyaallah itu sebelum melakukan, bukan setelah melakukan. Simak cerita menarik berikut ini di dalam kitab Akhbâr Al-Humqi wa Al-Mughfilìn karya Ibnu Jauzi rahimahullah :

خرج رجل إلى السوق يشتري حماراً فلقيه صديق له فسأله، فقال‏:‏ “إلى السوق لأشتري حماراً”، فقال‏:‏ “قل إن شاء الله”، فقال‏:‏ “ليس ها هنا موضع إن شاء الله، الدراهم في كمي والحمار في السوق”، فبينما هو يطلب الحمار سُرِقت منه الدراهم فرجع خائباً، فلقيَه صديقه فقال له‏:‏ “ما صنعت؟” فقال‏:‏ “سُرِقت الدراهم إن شاء الله”، فقال له صديقه‏:‏ “ليس ها هنا موضع إن شاء الله‏”.‏

Seorang laki-laki keluar menuju ke pasar ingin membeli keledai, maka ketemu dengan temannya, emannya bertanya kepadanya, maka laki-laki itu menjawab: saya ke pasar mau membeli keledai, maka temannya berkata, ucapkan insyaallah,
Laki-laki itu menimpali (dengan yakin), bukan di sini tempatnya berkata insyaallah, Dirham sudah di sakuku dan keledai ada di pasar.
Maka ketika dia mencari keledai, Uang Dirhamnya dicuri orang, maka dia kemudian pulang dengan keadaan kecewa, maka laki-laki itu ketemu lagi dengan temannya, temannya berkata, apa yang kamu perbuat?, dia menjawab, uang dirham ku telah dicuri insyaallah,
Maka temannya menimpali, bukanlah di sini tempat mengucapkan insyaallah!

🌷 Marilah, tatkala kita mau berencana melakukan sesuatu jangan lupa ucapkan insyaallah, sebagai penyandaran urusan kepada Allah Ta’ala.

 

Catatan:

Tidak usah diributkan tentang penulisan lafazh “insyaallah”, karena kata itu adalah kata serapan dari bahasa Arab, yaitu:
إن شاء الله
Karena itu Kata serapan, maka tulisannya tetap digabungkan, menjadi: “insyaallah”, seperti juga kata “alhamdulillah”.
Jika ada yang bertanya: kenapa bukan InsyaAllah?huruf A nya besar? Maka dijawab: a nya kecil karena itu a huruf Hamzah yang di depan kata Allah.
Kalau “inshaallah” itu bahasa Inggrisnya.

Wallaahu a’lam

 

******************

✍ Oleh: Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I
( Dewan Pembina bimbingansyariah.com)

Post Author: Agus Santoso, Lc., M.P.I.

Mahasiswa Doktoral Hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *